Headlines

Rezeki Nomplok di Balik Seragam Loreng, Kisah Dapur Ibu Siti Hajar di TMMD 128



(TO // LANGKAT) - Jalan boleh diperlebar, parit boleh dinormalisasi, dan jembatan bisa dibangun dalam hitungan hari. Tapi ada satu hal yang kerap luput dari laporan resmi pembangunan: dapur warga yang tiba-tiba hidup kembali.


Di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 bukan hanya soal beton dan cangkul. Ia juga tentang panci yang tak pernah dingin dan rumah yang tak lagi sepi.


Selama sebulan, sejak 22 April hingga 21 Mei 2026, sekitar 150 personel gabungan TNI, Polri, dan pemerintah daerah digerakkan. Targetnya jelas: 20 sasaran fisik, dari jalan sepanjang 1,5 kilometer hingga sumur bor dan rumah layak huni. Tema besar pun dipasang: “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.”


Namun, di balik jargon yang terdengar familier itu, ada cerita yang lebih jujur—dan lebih manusiawi.


Rumah Siti Hajar (57), di Dusun IV Parit 5, mendadak berubah fungsi. Dari rumah sederhana menjadi “barak keluarga”. Sepuluh personel Satgas tinggal di sana. Dapur yang biasanya sunyi kini bekerja nyaris tanpa jeda.


“Capek iya, tapi senang. Rumah jadi ramai,” katanya singkat.


Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Tapi di situlah inti cerita ini: negara hadir bukan dalam bentuk pidato, melainkan dalam bentuk sepiring nasi yang dimasak bersama.


Para prajurit itu tidak sepenuhnya menjadi tamu. Mereka ikut mencuci piring, menggoreng ikan, menyapu lantai. Sore hari, selepas berkutat dengan lumpur proyek, mereka kembali bukan sebagai “tentara”, melainkan sebagai penghuni rumah. Malamnya, sebagian mengajari anak-anak mengaji. Sisanya bercengkerama, mengisi ruang yang sebelumnya kosong.


Delapan rumah di Desa Pasar Rawa mengalami hal serupa. Kapasitasnya bervariasi—dari 10 hingga 20 orang. Secara tak langsung, rumah-rumah itu berubah menjadi simpul interaksi: antara negara dan warga, antara program dan kehidupan sehari-hari.


Bagi warga, ini bukan sekadar pengalaman sosial. Ada efek ekonomi kecil yang terasa—belanja dapur meningkat, aktivitas harian bertambah. Tapi lebih dari itu, ada sensasi memiliki “keluarga baru” yang datang tanpa direncanakan.


Di sisi lain, pekerjaan fisik terus berjalan. Jalan dibuka, parit dibersihkan, jembatan dibangun, rumah diperbaiki. Program nonfisik seperti penyuluhan narkoba, kesehatan, hingga ketahanan pangan ikut dilaksanakan. Semua berjalan sesuai rencana—setidaknya di atas kertas.


Namun, seperti banyak program pembangunan lainnya, yang paling membekas justru bukan angka-angka capaian itu. Melainkan momen-momen kecil yang tak tercatat: suara tawa di dapur, obrolan ringan di teras, dan kehangatan yang tak bisa diukur dengan laporan akhir.


TMMD 128 mungkin akan selesai sesuai jadwal. Jalan akan tetap ada, jembatan akan terus dipakai. Tapi bagi Siti Hajar, yang paling tinggal adalah sesuatu yang lebih sederhana—dan lebih lama bertahan. (red)

Targetoperasi.com Copyright © 2017

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.