Headlines

Evakuasi Orangutan Sumatera di Langkat, BKSDA Sumut Turun Tangan



(TO // Langkat) - Seekor Orangutan Sumatera (Pongo abilii) berhasil dievakuasi oleh tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara di Desa Karya Jadi, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat Sumatera Utara.


Evakuasi dilakukan setelah adanya laporan masyarakat yang melihat satwa dilindungi tersebut berkeliaran di area perkebunan warga. Keberadaan orangutan sempat menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi memicu konflik antara manusia dan satwa liar.


Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, melalui Kepala Seksi KSDA Wilayah II Stabat Bobby Nopandry bersama tim di lapangan menyampaikan bahwa proses evakuasi dilakukan sesuai prosedur penyelamatan.


Kepada awak media Kepala Seksi KSDA Wilayah II Stabat Bobby Nopandry menyampaikan,Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bersama Tim Human Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) YOSL–OIC berhasil mengevakuasi dan mentranslokasi satu individu orangutan jantan dari area perladangan warga di Desa Karya Jadi, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, ke hutan primer kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.


"Kegiatan ini berawal pada 20 April 2026 saat Tim HOCRU YOSL–OIC melakukan monitoring orangutan.Saat bertemu dengan warga, tim menerima laporan mengenai keberadaan orangutan yang sering turun ke gubuk dan berada di tanah di sekitar perladangan karet dan sawit muda. 


Warga khawatir orangutan berisiko memakan racun pertanian atau tertembak pemburu babi yang kerap beraktivitas di area tersebut,"ungkap Bobby.Sabtu (25/4/2026).


Menindaklanjuti laporan, tim segera berkoordinasi dengan BBKSDA Sumatera Utara untuk melakukan langkah evakuasi pada Selasa, 21 April 2026


"Selanjutnya tim gabungan yang terdiri dari petugas Resor Aras Napal dan tim HOCRU YOSL-OIC segera turun ke lokasi dan menemukan satu individu orangutan berada di area hutan yang terisolasi di tengah perladangan karet yang dikelilingi tanaman sawit muda.


Guna evakuasi orangutan tersebut,tim melalui Dokter hewan YOSL–OIC kemudian segera melakukan pembiusan dengan dosis terukur untuk mengamankan satwa. Setelah berhasil dievakuasi.


Lalu tim melakukan pemeriksaan kesehatan orangutan.Hasil pemeriksaan menunjukkan  individu tersebut berjenis kelamin jantan, diperkirakan berusia sekitar 25 tahun dengan bobot ±60 kilogram. Kondisinya dinyatakan sehat, tidak ditemukan luka maupun cacat, sehingga direkomendasikan untuk segera ditranslokasi ke habitat yang lebih aman pada saat itu juga.


Berdasarkan hasil koordinasi antara BBKSDA Sumatera Utara dan BBTNGL, diputuskan orangutan tersebut dilepasliarkan di hutan primer Resor Cintaraja, TNGL. 


Perjalanan menuju titik lokasi pelepasliaran cukup menantang karena tim harus menyeberangi sungai dan orangutan harus diangkut menggunakan rakit. 


Setibanya di lokasi, selanjutnya petugas membuka penutup kandang dan orangutan segera keluar,dan langsung memanjat pohon terdekat, lalu menghilang di rimbunnya pepohonan hutan. Jarak antara lokasi evakuasi dan lokasi translokasi ± 14 kilometer. 


Kegiatan ini merupakan bentuk respon cepat kolaborasi para pihak dalam menangani potensi interaksi negatif antara manusia dan orangutan serta upaya penyelamatan satwa liar dilindungi agar dapat kembali hidup aman di habitat alaminya.


Bobby Nopandry menambahkan bahwa pihaknya terus meningkatkan patroli serta edukasi kepada masyarakat guna mencegah konflik serupa.


“Kami mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tidak melakukan tindakan yang membahayakan satwa. Segera laporkan kepada petugas jika menemukan satwa liar dilindungi,” tegasnya.


Diketahui, Orangutan Sumatera merupakan satwa endemik Indonesia yang berstatus kritis (critically endangered), sehingga upaya penyelamatan dan pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama. (red/rd)

Targetoperasi.com Copyright © 2017

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.